Lebih dari Sekadar Garis: Sebuah Ikhtiar Kecil untuk Keselamatan Santri Nusantara

Oleh: Ar. Ade Fadli, S.Ars., MSCM

Seringkali, profesi arsitek dipersepsikan hanya sebagai perancang estetika—tentang bagaimana membuat bangunan terlihat megah, indah, dan instagramable. Namun, bagi saya pribadi, arsitektur memiliki beban moral yang jauh lebih dalam dari itu. Arsitektur adalah tentang kemanusiaan dan keselamatan.

Pada tanggal 10 Desember 2025 kemarin, di tengah hiruk-pikuk kota industri Cilegon, saya berdiri di hadapan para tokoh bangsa, insinyur, dan pemangku kebijakan dalam acara Simposium Rancang Bangun Pondok Pesantren Nusantara.

Hari itu bukan sekadar hari presentasi biasa. Hari itu adalah momen di mana sebuah kegelisahan yang sudah lama saya pendam akhirnya mewujud menjadi sebuah aksi nyata.

Berangkat dari Rasa Pilu

Hati siapa yang tidak teriris melihat berita tentang bangunan pesantren yang roboh? Tempat di mana ribuan santri menuntut ilmu agama, yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru menjadi ancaman karena ketidaktahuan akan standar struktur dan mitigasi bencana.

Saya merenung, sebagai seorang arsitek, apa yang bisa saya lakukan? Ilmu yang saya miliki ini, jika tidak digunakan untuk melindungi nyawa, lantas untuk apa?

Itulah cikal bakal lahirnya Lembaga Bantuan Arsitek Nusantara (LBAN).

Lahirnya LBAN: Kolaborasi untuk Umat

Alhamdulillah, niat kecil ini disambut dengan gelombang dukungan yang luar biasa. Didukung oleh Indonesian Society of Steel Construction (ISSC), PT Krakatau Steel, dan PT Krakatau Posco, LBAN resmi diluncurkan.

Melihat kehadiran Bapak Sudjatmiko (DPR RI), rekan-rekan dari Kemenag RI, hingga para Kiai, saya semakin yakin bahwa kita berada di frekuensi yang sama. Kita semua sepakat bahwa keselamatan santri adalah prioritas mutlak.

Dalam presentasi saya kemarin, saya menekankan tiga pilar utama yang menjadi core belief desain LBAN: Sehat, Spiritual, dan Kuat.

  • Sehat: Sirkulasi udara dan cahaya yang baik untuk fisik santri.

  • Spiritual: Ruang yang mendukung kekhusyukan ibadah.

  • Kuat: Struktur yang kokoh, tanggap terhadap risiko gempa dan bencana.

Sebuah Undangan Terbuka

Peluncuran ini hanyalah langkah pertama (batu pijakan). LBAN tidak bisa berjalan jika hanya mengandalkan saya seorang diri.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengetuk hati rekan-rekan sejawat, para arsitek profesional, insinyur, maupun mahasiswa arsitektur di seluruh Indonesia. Mari kita sisihkan sedikit waktu dan keahlian kita. Mari kita “wakafkan” garis desain kita untuk membantu pesantren-pesantren di pelosok yang membutuhkan pendampingan.

Bagi saya, mendesain hotel mewah atau gedung perkantoran tinggi mungkin memberikan kepuasan materi. Namun, mendesain pesantren yang kokoh, mengetahui bahwa ada ratusan santri yang bisa tidur nyenyak dan belajar dengan aman di dalamnya, memberikan kepuasan batin yang tak ternilai harganya.

Jika Anda seorang pengurus pesantren yang membutuhkan asistensi desain, atau rekan arsitek yang ingin bergabung dalam gerakan ini, pintu LBAN selalu terbuka.

Silakan kunjungi www.LABAN.id atau sapa kami di Instagram @lban_official.

Mari bersama-sama kita bangun peradaban pesantren yang lebih aman dan bermartabat. Bismillah.